[shortstory] Based on ‘Taylor Swift – Back to December’ Lyric.






Kedatangannya cukup membuatku tersenyum. Kegelisahanku yang sempat mampir tadi langsung sirna. “Aku senang kau datang. Bagaimana kabarmu? Bagaimana ibu, dan Raynald?” tanyaku, antusias.

“Mereka baik. Aku juga.”

Nada dingin yang keluar darinya cukup membuatku tertohok. 2 tahun ini cukup membuatnya berubah. Dia terlihat lebih dewasa dari terakhir kali kami bertemu. Aku dengar dia sukses dengan usahanya, dia lebih sibuk akhir-akhir ini.

Kami tak banyak bicara lagi, dia seolah membangun perlindungan terhadap dirinya dan aku tahu kenapa.

Seperti film lama yang kembali diputar, semua hal yang pernah terjadi diantara kami tergambar jelas di kepalaku. Bunga yang dia berikan padaku waktu itu, dan aku meninggalkannya begitu saja. Hh.. rasa bersalah kembali menguak di kepalaku.

Kembali kulihat laki-laki yang duduk di depanku. Kami seolah 2 orang yang tidak saling kenal, dan aku tahu ini salahku.

Aku berdehem. “Emm.. Maaf soal malam itu, Gab.” Suaraku tertahan. Dia menatapku lekat.

Helaan nafasnya membuat rasa bersalahku kembali datang. “Lupakan, aku sudah tidak mempermasalahkan itu.” suaranya masih sama, dingin.

I want make a confession. Kau ingat sejak kita berpisah 2 tahun lalu?”

Dia menyergitkan dahi.

“Aku tahu mungkin ini tak pantas aku katakan padamu setelah semua yang pernah terjadi. Tapi kurasa aku perlu mengatakannya. Emm.. aku minta maaf soal malam itu. karena telah mengabaikanmu, mengabaikan semua perhatianmu padaku.”

“Kau tahu, sejak saat itu, tak pernah sekalipun aku melewatkan setiap kabar tentangmu. Dan sejak kau akhirnya memutuskan pergi ke London, I just realize that I think, may I loved you.” Airmataku hampir menetes, tapi aku masih berusaha menahannya.

Tatapannya berubah teduh sekarang, “Kau banyak berubah 2 tahun ini. aku tahu. Dan mungkin tidak mungkin kau akan memperlakukanku seperti dulu lagi sekarang. Tapi apakah salah jika aku berharap?” airmataku meluncur bebas diwajahku. Perasaan ini sungguh membuatku sakit.

Semua kejadian itu kembali berputar di kepalaku. Saat dia datang ke rumahku, membawakanku seikat bunga dan aku hanya meninggalkannya di tangga. Saat acara ulangtahunnya dan aku malah pergi dengan Mario. Dan saat dia memelukku ketika Mario pergi, dan aku masih tak menghiraukannya. Rasa sesak memenuhi dadaku. Air mataku berderai.

Dia meletakkan garpu dan sendok yang dipegangnya. Tatapanya sama seperti saat terakhir kali aku melihatnya. “Entahlah Alyssa. Aku tak mengerti dengan perasaanku sekarang. Kau melakukan ini dengan tiba-tiba, aku bahkan hampir tak bisa mengingat apa saja yang pernah terjadi diantara kita.”

Sekali lagi, kata-katanya membuatku semakin terpuruk dalam penyesalan. Apa begitu besar kesalahan yang pernah kulakukan padanya?

Kami sama-sama hening dalam waktu yang cukup lama. Sampai akhirnya dia buka suara lagi, “Kurasa sudah terlalu larut untuk berada diluar. Aku akan mengantarmu pulang.” Katanya.

“Tak perlu. Aku juga membawa mobil.” Tolakku. Setelah apa yang kukatakan tadi, apa aku masih sanggup untuk duduk disampingnya saat dia mengendarai? Hh...

“Baiklah. Soal ucapanmu tadi, aku akan memikirkannya lagi. mungkin aku butuh waktu untuk mengingat apa yang terjadi. Aku permisi.” Dia menjauh, sampai akhirnya masuk ke dalam mobilnya dan berlalu dari pandanganku.


Aku menundukkan kepala. Gabriel yang sekarang bukan Gabriel yang dulu. dia bukan lagi Gabriel yang menenangkan seperti dulu, dan itu karenaku. Hahaha, ya nyatanya aku bodoh. Ini kesalahanku, dan sekarang aku terjebak dalam kesalahanku sendiri. Gadis bodoh!

Posting Komentar