Kedatangannya cukup membuatku tersenyum. Kegelisahanku yang sempat
mampir tadi langsung sirna. “Aku senang kau datang. Bagaimana kabarmu? Bagaimana
ibu, dan Raynald?” tanyaku, antusias.
“Mereka baik. Aku juga.”
Nada dingin yang keluar darinya cukup membuatku tertohok. 2 tahun ini
cukup membuatnya berubah. Dia terlihat lebih dewasa dari terakhir kali kami
bertemu. Aku dengar dia sukses dengan usahanya, dia lebih sibuk akhir-akhir
ini.
Kami tak banyak bicara lagi, dia seolah membangun perlindungan terhadap
dirinya dan aku tahu kenapa.
Seperti film lama yang kembali diputar, semua hal yang pernah terjadi
diantara kami tergambar jelas di kepalaku. Bunga yang dia berikan padaku waktu
itu, dan aku meninggalkannya begitu saja. Hh.. rasa bersalah kembali menguak di
kepalaku.
Kembali kulihat laki-laki yang duduk di depanku. Kami seolah 2 orang
yang tidak saling kenal, dan aku tahu ini salahku.
Aku berdehem. “Emm.. Maaf soal malam itu, Gab.” Suaraku tertahan. Dia
menatapku lekat.
Helaan nafasnya membuat rasa bersalahku kembali datang. “Lupakan, aku
sudah tidak mempermasalahkan itu.” suaranya masih sama, dingin.
“I want make a confession.
Kau ingat sejak kita berpisah 2 tahun lalu?”
Dia menyergitkan dahi.
“Aku tahu mungkin ini tak pantas aku katakan padamu setelah semua yang
pernah terjadi. Tapi kurasa aku perlu mengatakannya. Emm.. aku minta maaf soal
malam itu. karena telah mengabaikanmu, mengabaikan semua perhatianmu padaku.”
“Kau tahu, sejak saat itu, tak pernah sekalipun aku melewatkan setiap
kabar tentangmu. Dan sejak kau akhirnya memutuskan pergi ke London, I just realize that I think, may I loved you.”
Airmataku hampir menetes, tapi aku masih berusaha menahannya.
Tatapannya berubah teduh sekarang, “Kau banyak berubah 2 tahun ini. aku
tahu. Dan mungkin tidak mungkin kau akan memperlakukanku seperti dulu lagi
sekarang. Tapi apakah salah jika aku berharap?” airmataku meluncur bebas
diwajahku. Perasaan ini sungguh membuatku sakit.
Semua kejadian itu kembali berputar di kepalaku. Saat dia datang ke
rumahku, membawakanku seikat bunga dan aku hanya meninggalkannya di tangga.
Saat acara ulangtahunnya dan aku malah pergi dengan Mario. Dan saat dia
memelukku ketika Mario pergi, dan aku masih tak menghiraukannya. Rasa sesak
memenuhi dadaku. Air mataku berderai.
Dia meletakkan garpu dan sendok yang dipegangnya. Tatapanya sama
seperti saat terakhir kali aku melihatnya. “Entahlah Alyssa. Aku tak mengerti
dengan perasaanku sekarang. Kau melakukan ini dengan tiba-tiba, aku bahkan
hampir tak bisa mengingat apa saja yang pernah terjadi diantara kita.”
Sekali lagi, kata-katanya membuatku semakin terpuruk dalam penyesalan.
Apa begitu besar kesalahan yang pernah kulakukan padanya?
Kami sama-sama hening dalam waktu yang cukup lama. Sampai akhirnya dia
buka suara lagi, “Kurasa sudah terlalu larut untuk berada diluar. Aku akan
mengantarmu pulang.” Katanya.
“Tak perlu. Aku juga membawa mobil.” Tolakku. Setelah apa yang
kukatakan tadi, apa aku masih sanggup untuk duduk disampingnya saat dia
mengendarai? Hh...
“Baiklah. Soal ucapanmu tadi, aku akan memikirkannya lagi. mungkin aku
butuh waktu untuk mengingat apa yang terjadi. Aku permisi.” Dia menjauh, sampai
akhirnya masuk ke dalam mobilnya dan berlalu dari pandanganku.
Aku menundukkan kepala. Gabriel yang sekarang bukan Gabriel yang dulu.
dia bukan lagi Gabriel yang menenangkan seperti dulu, dan itu karenaku. Hahaha,
ya nyatanya aku bodoh. Ini kesalahanku, dan sekarang aku terjebak dalam
kesalahanku sendiri. Gadis bodoh!

Posting Komentar