[shortstory] SILUET SENJA


[shortstory] SILUET SENJA



Entah sejak kapan aku menyukainya
Yang kuingat, karenamu aku menyukainya
Entah sejak kapan aku menyukainya
Yang kuingat, karenamu ini terasa bermakna

Disini, gadis itu meninggalkanku. Gadis yang membuatku seperti ini. Gadis yang membuatku menyukainya, yang membuatku begitu menyayanginya. Yang membuatku begitu mengaguminya.

Setahun yang lalu, sejak dia meninggalkanku disini. Yang menjadi tempat aku menghabiskan waktuku saat mengenangnya. Tempat yang membuat begitu banyak makna dalam siluet-siluet jingga. Yang membuatku semakin merindunya..

Kembali terdengar saat kalimat-kalimat itu meluncur bebas dari bibirnya, yang entah kenapa berhasil membuatku begitu menyukai tempat ini, menyukai suasana ini, dan tentu saja menyukainya.

“Ibuku bilang, saat senja para bidadari akan turun ke bumi, dan memberi apa yang kita ingin.”

“Dan kau percaya?”

“Kebohongan orang tua kadang hanya untuk menyenangkan anaknya, kan? Make a wish, Yo. Mungkin mereka akan mengabulkan keingianmu.”

...

“Apa expectation-mu Al?”

“Aku berharap aku tak harus pergi dari sini, agar aku bisa selalu melihat senja bersamamu.”

Kata-katanya saat itulah yang membuatku bertahan. Yang membuat harapan selalu ada padaku. Yang membuatku tetap menunggu bahkan untuk sesuatu yang entah apa itu. hari berikut setelah dia megucapkan keinginannya disini, keinginannya untuk tidak pergi. Nyatanya dia pergi.


Kuketuk pintu rumahnya, tapi tak ada satupun yang menyahut. Sepertinya rumah ini kosong. Aku berlari ke rumah disebelahnya, mungkin aku bisa bertanya dimana dia dan keluarganya. Tapi mereka menjawab ‘Tak tahu.”

“Mungkin dia disana. Mungkin dia sudah menunggu lama dan akhirnya dia menunggu disana.” Pikirku saat itu. aku berlari sekuat ku bisa agar cepat sampai disana, tapi nyatanya tempat itu juga kosong. Aku tak menemukan dia disana. Hanya aku sendiri.Menunggu hingga senja yang biasanya kutunggu bersamanya terlewat begitu saja. Seolah tanpa makna.

Hingga warna jingga yang biasanya menenangkan itu berubah menjadi gelap, aku masih disini. “Mungkin dia ada acara.” Pikirku masih mencoba menenangkan diriku sendiri. Arloji hitam di pergelangan tangan kiriku menunjukkan pukul 9 malam. Tapi keadaannya masih sama.

-000-

Ulang tahunku hari ini. Aku dan Gabriel sudah berada di cafe Omolattos, bersama teman-teman yang lain. tapi sampai hari ini aku belum bertemu dengannya. Aku mencoba menghubungi nomor handphonenya, tapi suara menyebalkan operator-lah yang menjawabnya.Kucoba beberapa kali, tapi hasilnya nihil.

Bahkan sampai acara ulangtahunku berakhir, aku tak bisa menemukannya.

-000-

Pagi berikutnya, aku kembali ke rumahnya. Menjemput dia sebelum ke sekolah seperti biasa. Tapi rumahnya tetap sepi. Tetangganya bilang rumah itu tetap gelap semalaman. Kemana sebenarnya dia? Kenapa tidak memberitahuku. Apa yang terjadi?

Laju motorku tak terlalu kencang. Pikiranku penuh dengan pertanyaan-pertanyaan tentang dia. Apa dia benar-benar pergi? Tapi kenapa? Kalau dia benar pergi kenapa dia tak memberi tahuku dan apa yang harus aku lakukan setelah ini?

“Hi, Yo!” sapaan Gabriel di depan pintu membuatku sadar kalau aku sudah sampai di sekolah.

Selama pelajaran berlangsung aku sama sekali tak bisa menyimaknya dengan baik. Pikiranku masih saja dipenuh hal-hal tentang dia. Candaan-candaan Gabriel yang biasanya membuatku tertawa sepanjang pelajaran terasa menyebalkan hari ini. dan aku mengabaikannya begitu saja.

“Lo kenapa sih, Yo! Cerita sama gue. Biasanya juga lo brisik banget!” amarah Gabriel akhirnya memuncak setelah seharian ini aku mengabaikannya. Aku masih diam. “Sorry, Gab. Gue harus pergi sekarang.” Aku meninggalkan Gabriel yang terpaku dengan muka kusutnya di koridor.

-000-

Getar handphone di saku celanaku membuyarkanku dari lamunan. Nama Gabriel terpampang layarnya, tanpa membaca pesannya kumasukkan kembali handphoneku ke saku.

Sinar keemasan memantul di permukaan air. Suasananya masih sama seperti saat itu. Saat dia tak pernah menemuiku lagi. Dan sampai sekarang aku masih tak tahu dimana dan bagaimana dia sekarang.

Harapan-harapan. Yang selama ini selalu aku ucapkan saat senja, agar aku bisa kembali bersamanya nyatanya tak pernah terwujud sampai saat ini. Kekecewaan memang sering menghampiriku, yang kadang hampir membuatku lupa tentang harapan itu.

Tapi aku selalu percaya, Tuhan akan selalu memberi pada mereka yang selalu punya harapan. Mungkin aku harus tetap menunggu, mungkin setahun lagi, atau 10 tahun lagi, atau selama hidupku aku harus menunggu. Dan itu yang membuatku tetap kuat sampai saat ini.

Senja berakhir, suara burung yang tadi memenuhi atmosfir disekitarku perlahan lenyap. Handphone disakuku sedari tadi berdering hampir tanpa jeda. Aku menyerah untuk mengabaikannya. Kuambil, dan menekan tombol bergambar telepon hijau.

“Yo, dimana?! Lo udah ditungguin bego! Cepetan.”

“Iya. Gue jalan sekarang.”

“15 menit. Kasian anak-anak udah nungguin dari tadi.”

Kututup telepon dan mengembalikannya pada saku jaketku. Hhh.. sekali lagi, aku melewati senja tanpamu. Dan mungkin besok akan menjadi senja yang sama, yang seolah tak bermakna seperti senja-senja lalu setelah kau pergi.

-000-

Omolattos Cafe sudah ramai dengan teman-temanku. Gabriel tampak kesal karena dari tadi aku mengabaikan sms  dan teleponnya. Tapi dia masih berusaha bersikap baik padaku. Haha.. aku sudah bisa menebak apa yang akan terjadi setelah acara ini berakhir.

“Maafkan aku, Gab! Aku tak berniat mengacaukan acaramu.”

Acara ulang tahun Gabriel –dan tentu saja ulang tahunku— berlangsung lancar. Ayah dan ibu, teman-temanku dan Gabriel berkumpul dan tampak bahagia. Mungkin hanya aku yang masih merasa asing dalam suasana kekeluargaan ini. Tentu saja. Aku masih kehilangannya.

“Yo, gue tahu lo sedih karena dia pergi. Tapi lo nggak bisa kayak gini terus. Ini bukan Cuma hari lo, kalo lo rusak hari ini, lo juga rusak hari gue.Happy birthday, Yo!” tepukan Gabriel dibahuku membuatku tersadar, ini bukan hanya tentangku, tapi juga Gabriel.

Aku kembali bergabung dengan teman-temanku dan berusaha menikmati acara. Ucapan selamat menghujaniku dan Gabriel. Acara hari ini berlangsung lancar dan sukses. Ya.. meski harus sekali lagi kulewati ulang tahun tanpamu.

-000-

Sore ini aku kembali ke tempat itu. Apa aku bodoh kalau aku masih mengharap dia akan datang kesini dan menemuiku? Apa aku bodoh kalau aku berharap kalau dia akan kembali bersamaku? Ya! Nyatanya aku memang bodoh. Karenanya.

Senja hampir terlewat, dan seperti biasa aku masih sendiri. Suara hembusan angin terdengar memilukan bagiku. Kembali bayangnya mengisi pikiranku. Lagi, senja ini kulewati sendiri.

“Yo..”

Suara itu. Suara yang selama ini aku rindukan. Suara yang selama ini selalu memenuhi kepalaku. Suara yang selalu terasa sangat menyiksa. Suaranya.

Aku membalikan badan.

“Maaf untuk senja-senja yang kau lewati untuk menunggu. Maaf untuk senja-senja yang kau lewati sendiri. Maaf untuk senja-senjamu yang tanpaku. Maaf untuk karena aku tak bisa menemani saat kau meniupp lilin ke tujuh belasmu kemarin.Terimakasih. Kini aku kembali, kembali menemani senja-senjamu. Kembali dengan harapan yang kau titipkan padaku. ..”

Sesosok gadis yang selalu kurindukan berdiri tepat di depanku. Dengan senyuman. Senyuman yang mampu menghapus semua perasaan kesalku selama ini. Senyumnya yang meluluhkanku. Dia memelukku. Dengan sedikit isakan tangis.

“Yo, maaf..”

Kami sama-sama terdiam dalam cahaya jingga yang menenangkan. Rasanya sudah lama sekali ini terjadi. Rasanya sudah terlalu banyak harapan-harapan yang terbayang akan sia-sia. Namun pada akhirnya, dia kembali. Kembali dengan harapan yang selalu kuucapkan kala senja. Dan aku sekarang percaya, Tuhan akan mengabulkan harapan yang kalian ucapkan saat senja.





Heavy Bornday, Mario
October 24, 2014
Beloved

Laili Rizqiani

Posting Komentar