Organic Community or Virtual Community, why not both?
Sudah menjadi hasrat manusia sebagai zoon politicon atau makhluk sosial
untuk berkumpul bersama manusia lain dan tidak bisa terlepas dari manusia lain.
Dalam kehidupannya, seorang manusia tentu akan menjalin hubungan, interaksi, dan
komunikasi bahkan bekerja sama dengan orang lain. Setidaknya ada dua alasan yang
mendorong manusia untuk hidup bersama, yang pertama yaitu manusia memiliki hasrat
untuk hidup bersama dengan orang di sekitarnya. Dan yang kedua manusia ingin bersatu
dan mengetahui lingkungan alam yang ada di sekitar.
Manusia yang hidup sendiri bahkan dianggap tidak wajar atau
mengalami gangguan kejiwaan. Karena alasan-alasan tersebut manusia hidup bergerombol
dengan membentuk kelompok atau komunitas. Komunitas adalah kelompok sosial dari
beberapa individu yang berada di lingkungan yang sama dan umumnya memiliki ketertarikan
pada minat yang sama.
Menurut Ferdinan Tonies, seorang ahli sosiologi ia mengemukakan
tentang paguyuban (gemeinschaft) dan patembayan
(gesselschaft). Paguyuban adalah komunitas
yang merujuk pada hubungan yang akrab, lebih homogen dan biasanya berasal dari tempat
yang sama. Misalnya Karang Taruna Desa, Paguyuban Mahasiswa Tasik, Paguyuban Mahasiswa
Tegal, dan sebagainya.
Sedangkan patembayan adalah komunitas yang lebih besar, tidak
terlalu akrab, bersifat impersonal dan memilihi hubungan kontraktual atau kerja
sama. Misalnya Komunitas Pecinta Fotografi, Komunitas Motor Vespa, Komunitas Pecinta
Reptil, Komunitas Musik Indie dan sebagainya.
Dalam komunitas, pasti terjadi interaksi antaranggotanya
seperti yang telah dijelaskan oleh Van Dijk, ada empat karakteristik yang
selalu ada dalam semua jenis komunitas yaitu memiliki anggota, adanya
organisasi sosial, bahasa dan pola interaksi. Dulu ketika belum ada teknologi
yang canggih seperti saat ini, interaksi antaranggota komunitas dilakukan
secara tatap muka pada suatu tempat tertentu. Hal tersebut disebut juga organic community atau komunitas
organic. Komunitas organik yaitu komunitas yang melakukan tatap muka dan
bertemu secara langsung dan terdapat kegiatan rutin.
Kemajuan teknologi banyak mengubah struktur dan budaya yang
ada di masyarakat, termasuk dalam hal bagaimana tercipta dan berjalannya sebuah
komunitas. Hadirnya teknologi memunculkan istilah virtual community atau komunitas virtual. Istilah ini pertama kali diperkenalkan
oleh Howard Rheingold dalam bukunya yang berjudul Virtual Community Homesteading on
the Electronic Frontier (2000) bahwa orang-orang dalam komunitas
virtual terlibat dalam sebuah wacana intelektual, mereka membicarakan hal-hal yang
seharusnya berada di dunia nyata malah dibicarakan di dunia virtual. Komunitas virtual
adalah komunitas yang terbentuk melalui media virtual. Melalui virtual community, pengguna atau individu
dapat mengekpresikan dirinya dengan berbagai bahasa atau kata di dunia maya dan
langsung bisa mendapatkan timbalbalik atau feedback
langsung saat itu juga dari lawan bicara. Dalam komunitas virtual, hampir semua
kegiatannya dilakukan secara online dan anggotanya tidak bertemu secara
langsung. Bahkan mungkin terpisah tempat geografis yang jauh.
Lalu komunitas
seperti apakah yang sebaiknya kita ikuti?
Sebenarnya, baik komunitas organik
maupun komunitas virtual memiliki perbedaan dan batasannya masing-masing. Ketika
bergabung dengan komunitas organik kita akan bertemu dan mengobrol secara
langsung dengan setiap anggota komunitas sehingga memungkinkan kita untuk mengenal
anggota lain dengan lebih tepat. Namun, dalam komunitas organik anggotanya
relativ terbatas secara tempat dan waktu.
Berdasarkan pengalaman pribadi,
saya mengikuti Paguyuban Mahasiswa Wonosobo yang ada di Purwokerto, komunitas
ini memiliki agenda rutin untuk berkumpul setidaknya sebulan sekali. Dari komunitas
ini saya mengenal lebih banyak orang yang berasal dari Wonosobo yang ada di
Purwokerto dan mengenal mereka secara langsung. Namun, kadang ketika berkumpul,
tidak semua anggota bisa ikut karena alasan
tertentu.
Sementara
ketika kita tergabung dalam komunitas virtual, semua kegiatan dan komunikasi
antaranggota terjalin melalui media. percakapan, pertukaran informasi, bahkan
perdebatan dilakukan secara virtual. Kelebihannya adalah kita tidak perlu
bertemu secara langsung, selama kita terhubung dengan internet kita bisa
tergabung dalam aktivitas yang sedang terjadi dalam komunitas dimanapun dan
kapanpun. Tetapi, karena kita tidak bertemu secara langsung, atau bahkan karena
pada komunitas virtual sering kali antaranggotanya sama sekali tidak tahu satu
sama lain, kita tidak tahu seperti apa lawan bicara kita atau bagaimana
kepribadian lawan bicara kita tersebut sebenarnya. Penggunaan identitas palsu menjadi
permasalahan yang kita alami ketika ada dalam sebuah komunitas virtual.
Ketika
pertama kali menggunakan Facebook, saat itu saya baru duduk di bangku sekolah
menengah pertama atau SMP, saya tergabung dalam sebuah komunitas virtual menulis
fanfiction di jejaring
sosial Facebook. Anggotanya berasal dari berbagai
daerah dan dari berbagai usia.dari komunitas tersebut saya banyak belajar
tentang menulis cerpen remaja, kami juga sering berbagi bagaimana cara menulis
atau sekedar sharing tulisan yang
bagus untuk dibaca.
Sampai sekarang, grup tersebut
masih aktif walaupun sudah tidak seintens dulu. Namun, saya sebagai anggota
tidak mengenal secara pasti anggota yang lain karena kami belum pernah bertemu
secara langsung. Ada juga anggota yang tidak menggunakan nama asli dan memasang
foto tokoh kartun sebagai foto profil akun facebooknya. Hal inilah yang menjadi
kekurangan dalam dunia virtual dimana identitas dengan sangat mudah dipalsukan,
dan tidak jarang karena menggunakan identitas palsu mereka bertindak semaunya.
Pemanfaatan Internet yang tepat dapat dimanfaatkan sebagai perpanjangan dari komunitas organik yang
memiliki batasan tempat dan
waktu. Dengan teknologi internet, saat ini komunitas organik biasanya telah
memiliki komunitas virtualnya juga untuk mempermudah dalam berkomunikasi dengan
tetap mempertahankan tradisi-tradisi yang ada dalam komunitas organik seperti
tatap muka dan pertemuan rutin.
Hadirnya teknologi new media, terutama internet seolah
menjadi pisau bermata dua bagi para penggunanya. Internet memberikan kita
kemudahan dalam berinteraksi dan beraktivitas dalam sebuah komunitas, tetapi
disisi lain penyalahgunaan internet menjadi masalah baru yang muncul akibat
kehadiran media yang satu ini. Sebagai pengguna internet kita dituntut untuk ‘pintar’
dan bijak dalam menggunakannya agar tidak merugikan diri sendiri maupun orang
lain, dan kita bisa memperoleh manfaat dari kehadiran internet di kehidupan
bermasyarakat kita.
Perkuliahan Mata Kuliah Teknologi Komunikasi
Kamis, 16 Maret 2017
Dosen Pengampu Tri Nugroho Adi, S.Sos M.Si
Posting Komentar