Hampir 20 menit aku menunggu, dia belum juga
keluar. Kau tahu kenapa aku harus menunggunya? Dia meneleponku tadi, dia bilang
dia sedang butuh ‘sandaran’. Ya.. dia selalu ‘memanggilku’ disaat begini.
Pintu terbuka, dia muncul. Akhirnya. Kacamata
yang ia kenakan tak mampu menutupi mata sembabnya. “Maaf membuatmu menunggu
lama..”
Cagiva merahku melaju takterlalu kencang. Dia
memelukku dari belakang dan menyandarkan kepalanya di punggungku. Kadang aku
berpikir kalau aku ingin dia memperlakukanku lebih.
Omolattos cafe tak terlalu ramai malam ini.
Kami duduk berhadapan. Dia menceritakan pertengkarannya tadi siang dengan
pacarnya. Hh.. kenapa dia tak pernah sadar aku yang selalu ada disebelahnya?
“Kenapa kau tak menyudahi saja hubunganmu
dengannya. Bukankah lebih baik kau bersama orang yang lebih mengertimu?”
“Mengerti? Siapa yang kau maksud? Hahha.”
Tawanya membuatku menyadari sesuatu.
Yah.. aku tak bisa menjawab pertanyaannya
yang itu. Kami sudah bersama sekitar 10 tahun dan itu membuatku sangat
mengertinya. Tapi kurasa dia tidak merasakan hal yang sama.
“Kau tahu, Gab? Kurasa aku merasa cocok
bersama Mario. Ya meskipun kami sering terlibat pertengkaran kecil, but it no matter.”
Hahaha. Aku mendengar kalimat itu juga tahun
lalu, saat dia bersama Stefan. Nyatanya hubungan mereka kandas. Aku tak yakin
hubungannya dengan Mario akan bertahan juga. Aku sudah menjadi teman curhatnya
selama 10 tahun, dan selama itu pula aku suka padanya. Tapi sepertinya, sekeras
apapun aku mencoba, kami akan selalu jadi teman. Hanya teman.
Yeah.. I
will end up being your boyfriend. We will always be just friend..
Laili
Rizqiani
17 November,
2014-11-17
[Based on
Just Friend – PWG lyric]

Posting Komentar