[Shortstory] Move On



Berlembar-lembar kertas sudah ku habiskan. Meja belajarku yang biasanya rapi sudah tak lagi bisa disebut demikian. Berkali-kali aku membuka aplikasi mesin pencari untuk mencari referensi atau hanya sekedar untuk mendengarkan lagu-lagu yang pernah kutulis sebelumnya.

Hampir 3 jam aku duduk disini, tapi bahkan tak ada satupun bait yang bisa melengkapi lirik lagu untuk bandku yang sedang kutulis. Entah kenapa bait-bait lagu yang biasanya begitu lancar menari-nari dalam pikiranku sehingga tercipta lagu yang kupikir easy listening seolah enggan walau hanya sekedar untuk melintas di kepalaku. Padahal deadline untuk lomba band tinggat SMA sebentar lagi. Sial.

Hampir frustasi. Hingga dering teleponku membatalkan rasa depresiku. Nama Raynald -salah satu anggota bandku- terpampang di layar. Segera ku geser gambar telepon berwarna hijau. Suara Raynald terdengar panik dari seberang telepon.

Tak lama. Dia hanya memberi tahu atau lebih bisa disebut mengingatkan tentang deadline pengumpulan lagu. Dan yang tentu saja membuatku semakin frustasi. Sial kau Ray!

Aku kembali berkutat dengan kertas dan pena, juga sebuah headphone yang menempel di kepalaku. Mencoba untuk kembali mencari kata-kata yang tepat untuk menulis lagu. Satu kata. Kata kedua. Kata ketiga. Hingga akhirnya sebuah kalimat. Dan.. ah sial. Tidak pas.

Raynald datang dan dia langsung heboh kenapa mejaku berantakan sekali. "Diam lah, Ray. Aku sedang menulis."

"Oh ya? Apa yang kau tulis. Aku hanya melihat sebuah kertas kosong Den." Sahutnya. "Apa yang salah denganmu? Kau tak seperti biasa. Ayolahh."

Aku menghela nafas. "Entahlah. Ngg.. Alena memutuskan hubungan denganku."

Kudengar suara Raynald tersedak, mungkin karena ucapanku karena tak lama setelah itu dia langsung menghampiriku, "serius? Kenapa?" Aku hanya mengangkat bahu, ya.. karena aku sendiri tak tau apa alasannya.

"Mungkin ini masalahmu, Den. Kau biasa menulis tentang Alena. Dan sekarang? Inspirasimu itu pergi." Ujarnya lagi setelah kami sama-sama terdiam untuk waktu yang cukup lama. Aku masih terdiam. Memikirkan apa yang baru saja Raynald ucapkan. Mungkin Raynald ada benarnya.

"Tapi Ray, lagu ini bukan tentang Alena." Aku memutar sebuah lagu dari handphoneku yang bercerita tentang seseorang yang sedang berusaha mendapatkan gadis idamannya. "Hey, itu lagumu saat kau berusaha mendekati Alena. Kau ingat?!"

Iya juga. Aku kembali men-scroll playlist lagu band kami di handphoneku. Ya.. hampir semuanya tentang Alena. Sial. Entah ini sebuah keberuntungan karena dia pernah menjadi inspirasi terbaik dalam lagu-lagu ku atau justru menjadi kesialan bagiku bahwa aku tak bisa menulis tanpa dia, ya.. faktanya dia pergi sekarang.

"Den, lebih baik kita pergi dulu sekarang. Siapa tau kau menemukan inspirasimu di luar sana." Kata Raynald seraya berdiri dan mengambil jaketnya. "Ayo!"

Kami hanya berjalan-jalan dengan sepeda motor melihat sekeliling. Melihat ramainya jalanan sore ini yang mulai macet, kafe-kafe yang mulai didatangi pelanggannya, dan para pekerja kantoran yang baru selesai melakukan rutinitas mereka. Tapi tetap saja, tak ada kalimat atau bahkan kata yang bisa mengalihkan pikiranku tentang Alena. Sial.

Raynald mengajakku untuk berhenti dan menyambangi sebuah kafe. "Bagaimana? Apa yang bisa kau tulis sekarang?" tanya Raynald yang hanya bisa kujawab dengan gelengan kepala. Dia hanya menghela nafas.

2 gelas minuman yang kami pesan datang. Aku melihat susasana kafe, cukup ramai. Beberapa remaja SMA yang sedang mengobrol cekikikan, 2 orang yang kurasa pekerja kantoran yang sedang mengobrol soal pekerjaan, dan seorang mas-mas yang duduk di pojokan menghadap laptop yang terlihat pusing, mungkin memikirkan skripsinya.

Tunggu! Aku sepertinya kenal aalah satu perempuan SMA yang duduk digerombolan tadi. Siapa ya.. aku lupa namanya. Tapi sepertinya aku mengetahuinya. I got an idea!

Aku menghabiskan minumanku dan mengajak Raynald keluar dari kafe. Sampai di rumah, kuambil kertas dan pena dan mulai menulis. Gocha!

Kami baru saja merekam lagu terbaru kami untuk segera dikirim. Finally kami bisa menyelesaikan lagu untuk lomba. Aku cukup puas dengan hasilnya, yaa.. walaupun tanpa Alena. Bicara soal Alena, terima kasih telah menjadi cerita dalam lagu-laguku, kau cerita yang indah. Atau harus kusebut kenangan sekarang.

Kau inspirasiku dalam menulis, tapi bukan berarti tanpamu aku tak lagi bisa menulis lagi, kan?




Ps. I usually write story based of a song. For this story please check song from Autorion - Move on. Thanks

Leleque~

Posting Komentar