ShortStory - False

Namaku Alyssa. Aku dan keluargaku baru pindah ke kota ini. Ayahku seorang polisi, dan sekarang karena beliau ditugaskan untuk menyelidiki sebuah kasus, akhirnya kami sekeluarga harus ikut ayah pindah.

Ayah bilang kasus itu tentang kasus yang terjadi sekitar 10 tahun yang lalu namun belum terselesaikan. Hh.. aku tak mengerti kenapa beberapa orang sangat tertarik dengan kasus-kasus seperti itu. Tapi yang lebih aku tidak mengerti, kenapa banyak orang yang sengaja membuat masalah dan menjadikan itu kasus sehingga melibatkan orang lain seperti ayahku.

Hari ini kami menempati rumah baru. Cukup rapi meski bisa dibilang rumah ini sedikit kecil. Oke, bukan sedikit, tapi ini memang cukup kecil. Ayah dan Michelle membantuku membawakan barang ke kemar baruku, yang kupikir ini juga tak kalah sempit dengan ruangan-ruangan lain.

Kamar baruku cukup bagus untuk mencetak hasil foto-fotoku nanti. Maksudku, ini harusnya dijadikan kamar gelap, bukan kamar untuk tidur. Aku mulai membereskan kamar baruku –yang harusnya lebih cocok untuk kamar gelap dan menyimpan hasil fotoku nanti—.

Aku membereskan meja belajar dan menaruh buku dan barang-barangku disana. Menyingkirkan barang-barang –yang mungkin milik penghuni kamar ini sebelumnya— dan memasukkannya dalam kardus. Sampai akhirnya aku menemukan sebuah buku catatan, terlihat masih cukup bagus dan klasik. Tapi aku tak begitu tertarik dengan tulis-menulis, jadi aku ikut memasukkan buku itu dalam kardus.

Selesai! Ibuku sudah memanggil untuk makan malam, dan setelah itu aku harus tidur untuk bersiap ke universitas baruku besok.

Aku berangkat bersama ayah dan Michelle. Aku dan kakakku hanya terpaut satu tahun, dan kami berada di universitas yang sama. Hanya saja Michelle ada di fakultas hukum, sementara aku di fakultas Seni. Kami sama-sama suka fotografi, dan nanti pulang sekolah kami berencana untuk pergi berkeliling kota ini.

Well, meski universitasku yang baru tak semegah dan sangat jauh berbeda dengan universitasku yang lama, ini cukup baik. Aku sudah punya teman di hari pertama, namanya Amanda. Seorang gadis berambut pirang dan panjang, dia bilang dia juga belum lama pindah ke kota ini. Mungkin itu salah satu alasan kenapa kami cepat akrab di hari pertama.

Amanda merekomendasikan spot menarik untuk foto, sebuah danau yang letaknya tak jauh dari kampus. Tapi sayangnya dia tidak bisa ikut aku dan Michelle. Dia bilang dia sudah ada janji bersama kekasihnya.


Aku sudah siap dengan kameraku, hadiah dari ayah dan ibu saat ulangtahunku tahun lalu. Danau yang dibilang Amanda memang tidak jauh dari kampus, kami hanya perlu berjalan sekitar 15 menit. Dan danaunya sangat indah, masih sangat alami. Aku tak sabar untuk segera mencetak foto-foto ini.
Saat pulang, ibuku bilang kami harus mengunjungi beberapa tetangga untuk berkenalan. Beliau juga sudah mempersiapkan kue sebagai hantaran. Hh.. mau tak mau aku dan Michelle harus ikut.

Komplek rumah yang kutinggali sekarang bisa dibilang sepi, hanya ada beberapa rumah –yang kupikir seperti rumah monopoli, terlihat sama—. Rumah pertama yang kami datangi ditinggali oleh sebuah keluarga yang sudah cukup tua. Rumah kedua, rumah ketiga, dan seterusnya terlihat hampir seperti keluargaku. Dan rumah terakhir yang kami kunjungi, aku hanya melihat seorang wanita baya yang terduduk di kursi roda dan seorang pemuda yang mungkin umurnya beberapa tahun diatas Michelle, mungkin itu ibu dan anak.

Tetangga-tetangga baruku cukup ramah, aku hanya kurang senang dengan sambutan pemuda tadi. Dia tidak terlalu ramah menurutku. Bahkan tadi hanya ibunya yang menyapa kami. Ibunya bilang dia memang pendiam.


Sebulan disini, aku masih belum terlalu terbiasa. Tapi aku dan Michelle semakin sering bersama. Tempat-tempat disini sangat bagus sebagai objek fotografi. Ayah juga terlihat semakin sibuk dengan pekerjaannya, aku tak terlalu mengerti tentang kasus yang sedang diselidiki ayah. 

“Bagaimana pekerjaan ayah, apakah sudah menemukan titik terang?” tanya ibuku saat makan malam.
“Sama sekali belum. Oh iya Alyssa. Ayah ingin kau ikut ayah besok. Ayah sudah bilang pada dosenmu, dan beliau memberi izin.” Sahut ayahku. Aku cukup terkejut. “Ayah, kenapa harus aku? Kenapa bukan Michelle?! Dia akan lebih membantu. ” protesku.

“Sebenarnya ayah ingin mengajak Michelle, tapi dia ada ujian minggu ini.”

“Hhh.. apa yang bisa ku lakukan? Aku sama sekali tak mengerti dengan pekerjaan ayah.”

“Kau hanya perlu ikut ayah dan memotret TKP, kupikir kau bisa melakukan itu, kan?”

Hhh.. aku sudah tak bisa menjawab lagi. Ibuku juga sudah memintaku. Oh Michelle, kenapa kau harus ada ujian disaat seperti ini.
Aku dan ayah berangkat sangat pagi. Aku mengenakan kaos polo dan blue jeans panjang dilengkapi rompi. Dan tak lupa kamera yang kugantungkan dileherku. “Kau sudah siap Alyssa?” tanya ayahku saat kami di mobil.

“Bukankah aku tak punya jawaban lain.”

Kami sampai di tempat yang dimaksud ayah, sebuah gudang yang sepertinya lama tak digunakan. “Baik Alyssa, mulailah!” Aku tak habis pikir, ini sama sekali bukan tempat yang baik sebagai objek foto.

Sesuai perintah ayah, aku mulai memotret beberapa objek yang kupikir mungkin ada hubungannya dengan kasus yang ayah selidiki. Dan kau tahu? Aku bertemu pemuda itu disini. Pemuda yang tinggal bersama ibunya, kalau tidak salah namanya Mario.

Aku dan ayah baru selesai sekitar pukul 8 p.m., dan aku baru sadar ketika pulang bahwa gudang itu tidak jauh dari rumah. Hanya sekitar 3 blok di sebelah barat dari rumahku. Sampai di rumah, aku langsung menuju kamarku. Hari ini cukup melelahkan. Dan besok aku harus melakukan hal yang sama.
Setelah mandi, aku menuju ruang makan. “Bagaimana hari ini Alyssa?” tanya ibuku. “Cukup melelahkan.” Ujarku sambil menyuapkan sesendok soup kentang buatan ibu. “Oh iya Alyssa, besok kau juga harus ikut.” Hhh...

Hampir satu minggu aku ikut penyelidikan ayah. Aku mulai terbiasa dengan ini. Malam ini ayah memintaku menunjukkan foto-foto hasil kemarin. Aku menunjukkan sekotak foto yang sudah ku cetak dan duduk disamping ayah.
“Ini cukup pelik, Alyssa. Bahkan pihak kepolisian masih belum tahu siapa pelakunya dan bagaimana dia membunuh. Tak ada barang bukti yang mengarah ke pelaku. Kasus ini ditutup dengan kesimpulan kalau itu kecelakaan biasa.” Kata ayah sambil memperhatikan foto-foto itu.
“Siapa korban pembunuhan itu?”
“Kepala polisi saat itu dan anak perempuannya, waktu itu anaknya masih berumur 9 tahun. jadi mungkin dia seumuran kakakmu sekarang. Sejauh ini polisi menduga, kalau korban terbunuh dalam kecelakaan lalu lintas.”
“Kalau mereka mati karena kecelakaan lalu lintas, lalu apa hubungannya dengan gudang itu?” sepertinya aku mulai tertarik dengan ini.
“Kecelakaannya terjadi di dekat gudang itu, dan polisi menemukan bangkai mobil yang digunakan pelaku terletak tak jauh dari gudang itu. Jadi polisi mungkin gudang itu ada hubungannya dengan ini. Tapi tak ada satupun sidik jari di mobil itu. Dan tak ada saksi yang bisa menjelaskan bagaimana kecelakaan itu terjadi. Sebenarnya keluarga itu punya dua anak, tapi setelah kejadian, istri dan satu anaknya lagi tak diketahui keberadaannya.”
“Bukankah ayah bilang kalau kasus ini terjadi sekitar 10 tahun yang lalu, lantas kenapa sekarang polisi menyelidiki kasus itu lagi?”
“Keluarga Mr. Jonathan mengatakan ada kemungkinan ini bukan kecelakaan biasa, tapi kecelakaan yang terencana. Kau tahu kenapa ayah di tempatkan di rumah ini selama bertugas? Rumah ini dulu ditempati oleh Mr. Jonathan dan keluarganya. Inspektur memberi ayah rumah ini dengan harapan kita bisa menemukan petunjuk di rumah ini.”
Aku tersentak, “Rumah ini? Apa ibu dan Michelle tahu?”
“Ibu dan kakakmu tahu, mereka juga sudah menyelidiki rumah ini. Tapi mereka tak menemukan apapun. Mungkin pelaku sudah melenyapkan buktinya karena sejak kejadian itu rumah ini tak ditempati lagi. Apa kau menemukan sesuatu saat membereskan kamarmu dulu?”
“Kenapa ayah baru memberi tahuku sekarang?” aku sedikit mengingat-ingat. “Entahlah.. kamarku.. barang-barang dari kamar itu aku simpan di kardus. Bukankah ayah yang menyimpannya?”
“Ayah menyimpannya di gudang. Bagaimana kalau kita periksa.” Aku mengikuti ayah ke gudang. Dan mulai membuka satu persatu kardus yang tersimpan disana.
“Ah ini dia.” Aku mengangkat sebuah kardus dan membukanya. Memperhatikan satu-persatu barang yang kuletakkan disana, tak ada yang aneh. Sampai aku menemukan buku catatan klasik itu, dan mulai membukanya.
Menyewa mobil
Memodifikasi mesinnya
Merencanakan perjalanan keluar kota
Melarikan diri bersama anak-anak

Seperti rencana pembunuhan. Tapi siapa yang melakukannya? ‘Melarikan diri bersama anak-anak’ mungkinkah ini dilakukan oleh istri Mr. Jonathan sendiri?
“Apa kau menemukan sesuatu Alyssa?”
“Eh, ini.” aku memberikan buku itu pada ayah. Ayah terlihat mengerutkan dahi saat membacamya. Mungkin ayah juga berpikiran sama denganku. “Kita harus melanjutkan penyelidikan besok. Sebaiknya kau pergi tidur.”

Hari ini masih ikut penyelidikan ayah. Kami berangkat pagi dan langsung menuju kantor ayah. Ayah bilang dia akan melaporkan tentang catatan di buku itu pada inspektur. Sampai di kantor, ayah segera menemui inspektur dan langsung diadakan rapat.
“Dilihat dari catatan ini, mungkin pelakunya adalah istri dari Mr. Jonathan. Dia sudah berencana untuk membunuh Mr. Jonathan dan kemudian melarikan diri bersama 2 anaknya. Tapi sayangnya, Maria ikut menjadi korban dan mati bersama Mr. Jonathan.”
“Tapi sampai saat kejadian, Mrs. Alena dan anak laki-lakinya tidak ada di TKP. Polisi saat itu juga sudah menyusuri sekitar lokasi kejadian, tapi tidak menemukan apapun.”
“Maaf aku terlambat.” Saat rapat berlangsung, tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan Mario ada dibalik pintu. “Oh Mario. Silahkan bergabung. Kasus ini mulai menemukan titik terang.” Inspektur mempersilahkan Mario bergabung.
“Bisakah aku melihat foto keluarga Jonathan.” Pinta ayah.
Seorang laki-laki memberikan foto keluarga Jonathan pada ayah. Dalam foto itu terdapat 4 orang. Mr. Jonathan, Mrs. Alena, dan dua anak mereka, Mario dan Maria –yang ikut tewas dalam kecelakaan—. Aku ikut memperhatikan foto itu. Ayah pernah bilang kalau mungkin anak itu sekarang berumur sekitar 20 tahun. jadi mungkin sekarang, Mario dalam foto itu sebesar Michelle, atau sebesar Mario yang duduk di depan inspektur sekarang.
“Oh iya, Hans. Aku mau kau juga melihat foto-foto TKP 10 tahun lalu. Mungkin ini bisa membantu.” Inspektur memberikan amplop yang berisi foto 10 tahun silam pada ayah. Ada foto gudang itu, dan bagaimana keadaan mobil setelah kecelakaan. Mobil itu terlihat sangat rusak karena terbakar.
“Atau mungkin Mrs. Alena ikut terbakar dalam kecelakaan itu. Lihatlah! Mobil ini sangat hancur.” Ujar ayah berkomentar. “Tidak! Bagian kanan dari mobil tidak terlalu terbakar. Mungkin saat itu Mrs. Alena menyelamatkan diri. Tapi yang tak kami mengerti, tak ada jejak apapun.”
“Dan kalaupun Mrs. Alena berhasil menyelamatkan diri, pasti sebagian tubuhnya rusak karena luka bakar.” Lanjut inspektur. “Jadi bagaimana mungkin Mrs. Alena dan anaknya bisa selamat dari kecelakaan itu?”

Semua kembali terfokus pada foto-foto TKP 10 tahun lalu dan yang baru kuambil. Semua orang disini terlihat sangat serius memikirkan masalah ini. aku mengamati mereka satu persatu, ayah dan beberapa orang lain memperhatikan setumpukan foto itu, inspektur melihat data di komputernya dan Mario, pemuda itu terlihat sedang menuliskan sesuatu di notebook-nya.
Entah kenapa, aku berpikir bahwa Mario adalah anak dari Mr. Jonathan. Aku melihat ada kesamaan di wajahnya dengan anak di foto itu. Tapi aku masih belum terlalu yakin. Aku memperhatikan Mario dan foto anak itu bergantian, ada yang mirip. Tapi aku tak tahu apa itu. Diam-diam aku memotret Mario dengan kameraku. Aku berencana mengamatinya lagi nanti. Entah kenapa aku sangat yakin kalau mungkin Mario ada hubungannya dengan keluarga Jonathan.

Penyelidikan hari ini masih belum membuahkan hasil yang jelas. Saat pulang, aku mengatakan kecurigaanku tentang Mario pada ayah. Tapi ayah membantah dan bilang kalau pemuda itu tak ada hubungan apa-apa dengan keluarga Jonathan. “Ayolah, Alyssa. Banyak orang yang bernama Mario disini.” Ini membuatku semakin penasaran.
Sampai di rumah, aku segera mencetak foto Mario dan membandingkannya dengan foto keluarga Jonathan. Cukup lama aku memperhatikan dua foto itu, sampai akhirnya aku sadar, bahwa Mario dan anak dalam foto itu memiliki mata yang sama.
Saat makan malam, ayah memberitahuku kalau aku bisa mulai masuk kuliah lagi besok. Aku cukup senang mendengar itu, karena Amanda bilang ada ujian mulai minggu depan. Tapi aku jadi tak tahu bagaimana perkembangan kasus itu.

Pulang kuliah, aku meminta Amanda untuk ikut denganku. Aku berencana untuk menyelidiki Mario dan ibunya. Aku sangat yakin kalau Mario adalah anak dari Mr. Jonathan. Dan mungkin wanita paruh baya yang kutemui saat berkenalan itu adalah Mrs. Alena.
“Apa kau yakin, Alyssa?”
“Aku sangat yakin. Lihatlah, matanya sama. Aku yakin Mario ada hubungannya dengan keluarga Jonathan.” Aku dan Amanda sudah berada di jalan depan rumah Mario. Kami hanya memperhatikan dari jauh, aku lihat Mario baru meninggalkan rumahnya, mungkin dia mau ke kantor ayah.
“Siapa nama ibu Mario? Apakah Alena juga?” tanya Amanda.
“Waktu aku dan ibuku ke rumahnya, dia bilang namanya Alice.”
“Berarti dia bukan istri Mr. Jonathan. Namanya bukan Alena.”
“Amanda, dia bisa saja bohong soal nama.”
“Tapi kalau Mario adalah anak dalam foto itu dan ibunya adalah Mrs. Alena, kenapa dia tidak bilang pada pihak polisi agar kasus ini segera terselesaikan?”
Amanda ada benarnya. Kenapa selama aku ikut penyelidikan, Mario jarang berkomentar. Apa dia sengaja menyembunyikannya? “Atau mungkin Mario sengaja menyembunyikannya karena dia tidak mau ibunya dipenjara, atau Mario kehilangan ingatannya karena kecelakaan itu.”
“Sebaiknya kita langsung tanyakan saja pada wanita itu, siapa tahu kita mendapatkan jawaban.” Amanda sudah berjalan lebih dulu menuju rumah Mario. “Amanda, apa kau gila?!” Dia tak menghiraukan teriakkanku. Akhirnya aku mengikutinya.
Wanita itu menyambut kami dengan ramah. “Bukankah kau yang waktu itu datang ke rumahku dan mengantar kue bersama ibu dan kakakmu?” sapanya padaku. Aku mengangguk, “dan ini Amanda, temanku.” Beliau tersenyum.
“Em.. sebenarnya ada yang ingin kami tanyakan. Apa Mario itu anakmu?” tanya Amanda. Hh.. kenapa dia langsung menanyakan itu. Wanita itu terdiam, “Apa Anda sebenarnya Mrs. Alena? Istri Mr. Jonathan?” lanjut Amanda.
Wanita itu masih terdiam. Cukup lama, sampai akhirnya dia mulai angkat berbicara. “Sebenarnya, aku tante Mario. Adik dari ayahnya, Jonathan.” Dia berhenti sejenak. “Saat kecelakaan, Alena mendatangi rumahku dan mengantar Mario kesini. Saat itu, keadaan Alena sangat menghawatirkan. Ia juga ikut menderita luka bakar, tapi dia meminta untuk merahasiakan keadaannya, dan hanya meminta suamiku yang kebetulan seorang dokter untuk menolongnya, Alena mengalami luka bakar serius di wajahnya, tapi Alena masih selamat. Setelah itu kami tidak tahu lagi keberadaannya. Dan kami merawat Mario.”
“Mario kehilangan ingatannya karena kejadian itu, seperti permintaan Alena, aku mengenalkan diri sebagai ibunya. Dia juga tidak tahu tentang Alena dan Jonathan, atau Maria adiknya.”
“Kalau Anda keluarga Mr. Jonathan, lalu apa Anda juga yang meminta pihak kepolisian untuk kembali menyelidiki kasus ini?” Lanjutku. Wanita itu menundukkan kepalanya, lalu mengangguk.
”Sebenarnya aku curiga kalau Alena yang merencanakan pembunuhan terhadap kakakku, Jonathan. Tapi aku tidak punya bukti apa-apa. Mario benar-benar kehilangan seluruh ingatannya karena kecelakaan itu. Jadi aku meminta polisi kembali menyelidikinya. Selama 10 tahun ini aku yang mengurus dan membersihkan rumah yang kau tempati sekarang. Dengan harapan aku bisa mendapatkan bukti disana. Tapi usahaku sia-sia.”
“Sampai akhirnya aku mendapat kecelakaan setahun yang lalu saat kembali dari rumah itu. Mobilku ditabrak dan pelakunya melarikan diri. Aku tak tahu siapa itu.” Jelas Mrs. Alice. Kami terus bercerita, bahkan aku tak sadar kalau hari sudah mulai larut. Akhirnya aku dan Amanda pamit pulang.
Aku akan membicarakan ini pada ayah, dan seperti yang dikatakan Mrs. Alice tadi, dia akan memberitahukan hal ini pada pihak kepolisian, dan tentu saja Mario akan tahu.

Selesai ujian. Aku kembali bergabung dengan penyidikan ayah. Dan sore ini aku sudah berada di rumah Mrs. Alice bersama yang lain.
”Alyssa sudah memberitahukannya padaku. Tapi kami juga perlu penjelasan langsung dari Anda, Mrs. Alice.” Ayahku memulai pembicaraan. Saat itu, tiba-tiba pintu  terbuka dan Mario berada dibaliknya.
“Mario, aku mau mengatakan sesuatu. Ini berkaitan dengan penyidikan, dan juga denganmu.” Kata Mrs. Alice. Mario bergabung bersama kami. “Sebenarnya, kau bukan anak kandungku Mario.” Mario masih diam walau sedikit terlihat terkejut.
“Jonathan adalah adikku, dan kau adalah anaknya. Saat kecelakaan terjadi, ibumu, Alena datang kesini bersamamu. Saat itu dia menderita luka bakar serius, tapi dia menolak dibawa ke rumah sakit. Suamiku bekerja sebagai dokter saat itu. Akhirnya suamiku berusaha menolongnya mesti dengan peralatan yang ada. Kemudian dia pergi setelah menitipkanmu padaku. Sampai sekarang aku tak tahu keberadaannya.” Ujar Mrs. Alice.
Kami terus berbincang. Mrs. Alice menceritakan semua pada pihak kepolisian dengan harapan mereka bisa menemukan jawaban untuk kasus ini. Mario juga terlihat lebih serius saat ini. hingga kami tak sadar bahwa jam dinding di rumah Mrs. Alice menunjukkan pukul 12.00 p.m., kemudian kami pamit pulang.
”Ini semakin rumit saja,” kata ayahku saat di mobil. Dari suaranya terdengar kalau ayah sangat lelah. “Aku pikir ini semakin mendekati titik terang, apa ayah tidak terlintas kalau Mrs. Alena –lah yang merencanakan ini semua?” sahutku.
“Ayah juga berpikir begitu. Tapi kami semua tidak tahu dimana keberadaan Mrs. Alena. Itu membuat polisi tidak bisa membuat keputusan begitu saja. Itu yang membuat keadaan menjadi semakin pelik. Kita harus segera mengetahui keberadaan Mrs. Alena. Apa dia baik-baik saja, atau malah dia sudah meninggal.”
Sinar lampu mobil menyilaukan mata kami. Semakin dekat, hinga akhirnya aku sadar kalau mobil di depan sengaja menabrak mobil ayah. Aku sempat melihat siapa yang ada di dalam mobil itu sekilas. Hingga akhirnya aku tak tahu lagi apa yang terjadi.

1 bulan menjalani perawatan itensif di rumah sakit, akhirnya aku sudah bisa pulang hari ini. Sayangnya, keadaan ayah belum membaik. Beliau masih harus di rawat, kakinya patah dan pendengaran ayah sedikit terganggu karena kecelakaan itu.
Aku ditemani Michelle pulang hari ini, ibuku masih di rumah sakit menjaga ayah. Michelle mengantarku sampai ke kamar, dan duduk di sebelahku. “Apa yang terjadi sebenarnya, Alyssa?” tanyanya pelan.
“Hhhh..” aku mendesah, “Aku tak terlalu ingat, tapi malam itu mobil yang ayah kendarai ditabrak dari arah lain.” Jelasku.
“Tapi setelah kejadian, polisi langsung ke TKP dan hanya menemukan kau dan ayah. Tidak ada kendaraan lain lagi.”
“Benarkah? Tapi aku sempat melihat siapa yang ada di dalam mobil. Seseorang, berambut panjang, dan wajahnya.. terdapat sedikit luka bakar. Iya aku sempat lihat dia, seorang wanita dengan luka bakar di wajah.”
Michelle diam. “Apa kau memikirkan apa yang kupikirkan Alyssa? Mungkinkah itu Mrs. Alena?”
Deg!
Sepertinya Michelle menyadari perubahan ekspresiku saat dia menyebut nama Alena. “Oh sebaiknya kau istirahat. Jangan terlalu memikirkan apa yang ku katakan tadi, keadaanmu harus pulih benar. Mungkin pihak kepolisian akan menanyaimu tentang ini dan memintamu kembali bergabung dengan penyelidikan saat kau sudah sembuh.” katanya lalu pergi meninggalkan kamarku.
Michelle benar. Kasus ini bahkan semakin sulit saja. Tentu pihak kepolisian akan menanyaiku cepat atau lambat, dan dalam waktu dekat ini mereka tak bisa melibatkan ayah dengan keadaan ayah yang seperti itu. Aku semakin curiga kalau Mrs. Alena terlibat.

Seminggu kemudian, aku sudah bisa kembali beraktivitas. Dan seperti yang Michelle bilang minggu lalu, inspektur dan orang-orang dari kepolisian datang ke rumah. “Bagaimana keadaanmu Alyssa?” sapanya.
“Sudah baik. Mungkin aku akan segera kembali bergabung dengan penyelidikan.”
“Pertama, aku ingin menanyakan kejadian malam itu.”
“Waktu itu, kami sedang membahas apa yang di bahas di rumah Mrs. Alice. Dan tiba-tiba ada mobil dari depan yang menabrak. Aku tak ingat mobil apa itu, dan aku juga tak lihat nomor polisinya. Tapi aku melihat sekilas siapa yang ada di dalam mobil. Sepertinya seorang wanita, dan aku melihat dia.. seperti luka bakar di wajahnya.” Jelasku. “Mungkin itu Mrs. Alena. Tapi aku masih tidak bisa memastikan.”
“Lalu apa yang terjadi dengan mobil yang menabrakmu? Kami hanya menemukan mobil ayahmu setelah kejadian.”
“Aku tak tahu. Setelah mobil itu menabrak kami, aku mungkin pingsan dan tak tahu lagi apa yang terjadi.” Salah seorang dari kepolisian tampak mencatat sesuatu. “Aku penasaran dimana sebenarnya Mrs. Alena sekarang..” ucap Mario tiba-tiba.
Kami terus membahas masalah ini meski tanpa ayah, dan hanya ada beberapa orang dari penyelidikan. Handphoneku berdering, nomor tak dikenal. “Aku keluar sebentar. Telponku berbunyi.” Aku beranjak dan keluar.
“Hallo?”
Tak ada jawaban. Tapi tiba-tiba seseorang membekap mulutku dari belakang. Aku memberontak. Mungkin suaraku terdengar sampai kedalam. Inspektur dan yang lainnya keluar.
“Alyssa apa kau baik-baik saja?” mereka tampak terkejut saat melihat aku disekap. “Jangan mendekat, atau aku akan menembak gadis ini.”
“Tunggu. Siapa kau? Kenapa kau tiba-tiba menyerang gadis itu? Ada apa denganmu?” Tanya Inspektur. “Apa kau Alena?”
“IYA! Aku Alena. Aku yang membunuh Jonathan! Dan kalau kalian macam-macam aku akan membunuh gadis ini.” ancamnya. Dia menyeretku pergi. Saat pelarian Mrs. Alena, tiba-tiba saja wanita itu terjatuh. Seseorang menembak kakinya.
“Mario, apa yang kau lakukan?!”
Kami langsung membawa Mrs. Alena ke rumah sakit agar ia mendapat penanganan segera. Aku tak menyangka Mario akan melakukan itu. Menembak ibunya sendiri?! Hhh.. kami duduk di depan ruang UGD, dokter sedang mencoba mengeluarkan peluru dari kaki Mrs. Alena.
“Mmm.. Mario, kenapa kau melakukan itu? Kenapa kau menembak Mrs. Alena, bukankah kau sudah tahu bahwa dia adalah ibumu?” tanyaku akhirnya.
“Aku tahu dia ibuku, tapi aku tidak mungkin membiarkannya membawamu begitu saja.” jawabnya tenang. “Lagi pula, mungkin itu satu-satunya cara agar kita bisa menyelesaikan kasus ini.” Mario menjawab dengan sangat dingin. Entah kenapa pemuda itu selalu begitu saat berbicara denganku.
Hampir tengah malam, operasi Mrs. Alena sudah selesai dan beliau dipindahkan ke ruang perawatan. Kami masih menunggunya sadar. “Mario, apa kau baik-baik saja?” akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya. Sejak tadi aku perhatikan dia sedikit tegang.
“Entahlah..”
Akhirnya Mrs. Alena terbangun. Dia sedikit terkejut saat melihat kami. Inspektur menyuruh agar Mario yang bicara pada Mrs. Alena, mungkin itu akan membantu.
“Aku minta maaf karena telah menembak kakimu, aku terpaksa melakukan itu.”
Mrs. Alena masih diam.
“Aku.. aku ingin bertanya sesuatu. Kenapa kau membunuh Mr. Jonathan? Kenapa kau merencanakan pembunuhan itu? Dan kenapa akhirnya kau menitipkanku pada ibu,  maksudku Mrs. Alice?” cercanya.
“Apa kau.. kau.. apa kau Mario? Anakku?”
Mrs. Alena menjelaskan semuanya. Kecelakaan yang akhirnya memberikan bekas luka di wajahnya. Kecelakaan yang menewaskan anaknya, Maria. Kecelakaan yang memaksanya meninggalkan Mario. Juga alasan kenapa dia merencakan pembunuhkan terhadap suaminya sendiri. Mrs. Alena juga menjelaskan dia yang menabrak mobil Mrs. Alice tahun lalu, dia juga yang menabrak mobil ayahku.
Mrs. Alena meminta maaf pada semuanya, dan dia juga akan menyerahkan diri pada polisi dan mengakui semuanya.

1 bulan kemudian, ayahku sudah sembuh total. Beliau sangat senang saat mendengar akhirnya kami bisa menemukan Mrs. Alena dan kasus ini terselesaikan. Sekarang aku bisa kuliah seperti biasanya, dan melanjutkan hobi fotografiku bersama Michelle.
Ayah juga sudah kembali bekerja di kepolisian, dan ada kasus baru yang sedang ia tangani. Aku tak tahu dan tak ingin tahu kasus apa itu. Sekarang aku hanya  Alyssa, seorang mahasiswa biasa. Aku banyak mendapat hal baru dari kejadian kemarin, tapi kurasa cukup dan aku tak ingin lagi berurusan dengan hal-hal yang mungkin akan membahayakan nyawaku sendiri.
“Hai, Alyssa.. lihat ini. ayahku baru memberikan kamera baru. Kurasa mulai sekarang aku akan ikut hunting  denganmu.” Natasha mendatangiku dengan membwa kamera barunya. Kami pergi ke danau yang pernah kudatangi bersama Michelle. Hhh.. suara shutter foto. Aku sangat menikmati ini.


D O N E

Posting Komentar