Namaku Alyssa. Aku dan keluargaku baru pindah ke kota ini. Ayahku
seorang polisi, dan sekarang karena beliau ditugaskan untuk menyelidiki sebuah
kasus, akhirnya kami sekeluarga harus ikut ayah pindah.
Ayah
bilang kasus itu tentang kasus yang terjadi sekitar 10 tahun yang lalu namun
belum terselesaikan. Hh.. aku tak mengerti kenapa beberapa orang sangat
tertarik dengan kasus-kasus seperti itu. Tapi yang lebih aku tidak mengerti,
kenapa banyak orang yang sengaja membuat masalah dan menjadikan itu kasus
sehingga melibatkan orang lain seperti ayahku.
Hari ini kami menempati rumah baru. Cukup rapi meski bisa dibilang rumah ini sedikit kecil.
Oke, bukan sedikit, tapi ini memang cukup kecil. Ayah dan Michelle membantuku
membawakan barang ke kemar baruku, yang kupikir ini juga tak kalah sempit
dengan ruangan-ruangan lain.
Kamar
baruku cukup bagus untuk mencetak hasil foto-fotoku nanti. Maksudku, ini
harusnya dijadikan kamar gelap, bukan kamar untuk tidur. Aku mulai membereskan
kamar baruku –yang harusnya lebih cocok untuk kamar gelap dan menyimpan hasil
fotoku nanti—.
Aku
membereskan meja belajar dan menaruh buku dan barang-barangku disana.
Menyingkirkan barang-barang –yang mungkin milik penghuni kamar ini sebelumnya—
dan memasukkannya dalam kardus. Sampai akhirnya aku menemukan sebuah buku catatan,
terlihat masih cukup bagus dan klasik. Tapi aku tak begitu tertarik dengan
tulis-menulis, jadi aku ikut memasukkan buku itu dalam kardus.
Selesai!
Ibuku sudah memanggil untuk makan malam, dan setelah itu aku harus tidur untuk
bersiap ke universitas baruku besok.
Aku berangkat bersama ayah dan
Michelle. Aku dan kakakku hanya
terpaut satu tahun, dan kami berada di universitas yang sama. Hanya saja
Michelle ada di fakultas hukum, sementara aku di fakultas Seni. Kami sama-sama
suka fotografi, dan nanti pulang sekolah kami berencana untuk pergi berkeliling
kota ini.
Well,
meski universitasku yang baru tak semegah dan sangat jauh berbeda dengan
universitasku yang lama, ini cukup baik. Aku sudah punya teman di hari pertama,
namanya Amanda. Seorang gadis berambut pirang dan panjang, dia bilang dia juga belum
lama pindah ke kota ini. Mungkin itu salah satu alasan kenapa kami cepat akrab
di hari pertama.
Amanda
merekomendasikan spot menarik untuk foto, sebuah danau yang letaknya tak jauh
dari kampus. Tapi sayangnya dia tidak bisa ikut aku dan Michelle. Dia bilang dia
sudah ada janji bersama kekasihnya.
Aku
sudah siap dengan kameraku, hadiah dari ayah dan ibu saat ulangtahunku tahun
lalu. Danau yang dibilang Amanda memang tidak jauh dari kampus, kami hanya
perlu berjalan sekitar 15 menit. Dan danaunya sangat indah, masih sangat alami.
Aku tak sabar untuk segera mencetak foto-foto ini.
Saat
pulang, ibuku bilang kami harus mengunjungi beberapa tetangga untuk berkenalan.
Beliau juga sudah mempersiapkan kue sebagai hantaran. Hh.. mau tak mau aku dan
Michelle harus ikut.
Komplek
rumah yang kutinggali sekarang bisa dibilang sepi, hanya ada beberapa rumah –yang
kupikir seperti rumah monopoli, terlihat sama—. Rumah pertama yang kami datangi
ditinggali oleh sebuah keluarga yang sudah cukup tua. Rumah kedua, rumah
ketiga, dan seterusnya terlihat hampir seperti keluargaku. Dan rumah terakhir
yang kami kunjungi, aku hanya melihat seorang wanita baya yang terduduk di
kursi roda dan seorang pemuda yang mungkin umurnya beberapa tahun diatas
Michelle, mungkin itu ibu dan anak.
Tetangga-tetangga
baruku cukup ramah, aku hanya kurang senang dengan sambutan pemuda tadi. Dia
tidak terlalu ramah menurutku. Bahkan tadi hanya ibunya yang menyapa kami.
Ibunya bilang dia memang pendiam.
Sebulan disini, aku masih belum
terlalu terbiasa. Tapi aku dan
Michelle semakin sering bersama. Tempat-tempat disini sangat bagus sebagai objek
fotografi. Ayah juga terlihat semakin sibuk dengan pekerjaannya, aku tak
terlalu mengerti tentang kasus yang sedang diselidiki ayah.
“Bagaimana
pekerjaan ayah, apakah sudah menemukan titik terang?” tanya ibuku saat makan
malam.
“Sama
sekali belum. Oh iya Alyssa. Ayah ingin kau ikut ayah besok. Ayah sudah bilang
pada dosenmu, dan beliau memberi izin.” Sahut ayahku. Aku cukup terkejut.
“Ayah, kenapa harus aku? Kenapa bukan Michelle?! Dia akan lebih membantu. ”
protesku.
“Sebenarnya
ayah ingin mengajak Michelle, tapi dia ada ujian minggu ini.”
“Hhh..
apa yang bisa ku lakukan? Aku sama sekali tak mengerti dengan pekerjaan ayah.”
“Kau
hanya perlu ikut ayah dan memotret TKP, kupikir kau bisa melakukan itu, kan?”
Hhh..
aku sudah tak bisa menjawab lagi. Ibuku juga sudah memintaku. Oh Michelle,
kenapa kau harus ada ujian disaat seperti ini.
Aku dan ayah berangkat sangat pagi. Aku mengenakan kaos polo dan blue jeans panjang
dilengkapi rompi. Dan tak lupa kamera yang kugantungkan dileherku. “Kau sudah
siap Alyssa?” tanya ayahku saat kami di mobil.
“Bukankah
aku tak punya jawaban lain.”
Kami
sampai di tempat yang dimaksud ayah, sebuah gudang yang sepertinya lama tak
digunakan. “Baik Alyssa, mulailah!” Aku tak habis pikir, ini sama sekali bukan
tempat yang baik sebagai objek foto.
Sesuai
perintah ayah, aku mulai memotret beberapa objek yang kupikir mungkin ada
hubungannya dengan kasus yang ayah selidiki. Dan kau tahu? Aku bertemu pemuda itu
disini. Pemuda yang tinggal bersama ibunya, kalau tidak salah namanya Mario.
Aku
dan ayah baru selesai sekitar pukul 8 p.m., dan aku baru sadar ketika pulang
bahwa gudang itu tidak jauh dari rumah. Hanya sekitar 3 blok di sebelah barat
dari rumahku. Sampai di rumah, aku langsung menuju kamarku. Hari ini cukup
melelahkan. Dan besok aku harus melakukan hal yang sama.
Setelah
mandi, aku menuju ruang makan. “Bagaimana hari ini Alyssa?” tanya ibuku. “Cukup
melelahkan.” Ujarku sambil menyuapkan sesendok soup kentang buatan ibu. “Oh iya
Alyssa, besok kau juga harus ikut.” Hhh...
Hampir satu minggu aku ikut
penyelidikan ayah. Aku mulai terbiasa
dengan ini. Malam ini ayah memintaku menunjukkan foto-foto hasil kemarin. Aku
menunjukkan sekotak foto yang sudah ku cetak dan duduk disamping ayah.
“Ini
cukup pelik, Alyssa. Bahkan pihak kepolisian masih belum tahu siapa pelakunya
dan bagaimana dia membunuh. Tak ada barang bukti yang mengarah ke pelaku. Kasus
ini ditutup dengan kesimpulan kalau itu kecelakaan biasa.” Kata ayah sambil
memperhatikan foto-foto itu.
“Siapa
korban pembunuhan itu?”
“Kepala
polisi saat itu dan anak perempuannya, waktu itu anaknya masih berumur 9 tahun.
jadi mungkin dia seumuran kakakmu sekarang. Sejauh ini polisi menduga, kalau
korban terbunuh dalam kecelakaan lalu lintas.”
“Kalau
mereka mati karena kecelakaan lalu lintas, lalu apa hubungannya dengan gudang
itu?” sepertinya aku mulai tertarik dengan ini.
“Kecelakaannya
terjadi di dekat gudang itu, dan polisi menemukan bangkai mobil yang digunakan
pelaku terletak tak jauh dari gudang itu. Jadi polisi mungkin gudang itu ada hubungannya
dengan ini. Tapi tak ada satupun sidik jari di mobil itu. Dan tak ada saksi
yang bisa menjelaskan bagaimana kecelakaan itu terjadi. Sebenarnya keluarga itu
punya dua anak, tapi setelah kejadian, istri dan satu anaknya lagi tak
diketahui keberadaannya.”
“Bukankah
ayah bilang kalau kasus ini terjadi sekitar 10 tahun yang lalu, lantas kenapa
sekarang polisi menyelidiki kasus itu lagi?”
“Keluarga
Mr. Jonathan mengatakan ada kemungkinan ini bukan kecelakaan biasa, tapi
kecelakaan yang terencana. Kau tahu kenapa ayah di tempatkan di rumah ini
selama bertugas? Rumah ini dulu ditempati oleh Mr. Jonathan dan keluarganya.
Inspektur memberi ayah rumah ini dengan harapan kita bisa menemukan petunjuk di
rumah ini.”
Aku
tersentak, “Rumah ini? Apa ibu dan Michelle tahu?”
“Ibu
dan kakakmu tahu, mereka juga sudah menyelidiki rumah ini. Tapi mereka tak
menemukan apapun. Mungkin pelaku sudah melenyapkan buktinya karena sejak
kejadian itu rumah ini tak ditempati lagi. Apa kau menemukan sesuatu saat
membereskan kamarmu dulu?”
“Kenapa
ayah baru memberi tahuku sekarang?” aku sedikit mengingat-ingat. “Entahlah..
kamarku.. barang-barang dari kamar itu aku simpan di kardus. Bukankah ayah yang
menyimpannya?”
“Ayah
menyimpannya di gudang. Bagaimana kalau kita periksa.” Aku mengikuti ayah ke
gudang. Dan mulai membuka satu persatu kardus yang tersimpan disana.
“Ah
ini dia.” Aku mengangkat sebuah kardus dan membukanya. Memperhatikan
satu-persatu barang yang kuletakkan disana, tak ada yang aneh. Sampai aku
menemukan buku catatan klasik itu, dan mulai membukanya.
Menyewa mobil
Memodifikasi mesinnya
Merencanakan perjalanan keluar kota
Melarikan diri bersama anak-anak
Seperti
rencana pembunuhan. Tapi siapa yang melakukannya? ‘Melarikan diri bersama
anak-anak’ mungkinkah ini dilakukan oleh istri Mr. Jonathan sendiri?
“Apa
kau menemukan sesuatu Alyssa?”
“Eh,
ini.” aku memberikan buku itu pada ayah. Ayah terlihat mengerutkan dahi saat
membacamya. Mungkin ayah juga berpikiran sama denganku. “Kita harus melanjutkan
penyelidikan besok. Sebaiknya kau pergi tidur.”
Hari ini masih ikut penyelidikan ayah.
Kami berangkat pagi dan langsung
menuju kantor ayah. Ayah bilang dia akan melaporkan tentang catatan di buku itu
pada inspektur. Sampai di kantor, ayah segera menemui inspektur dan langsung
diadakan rapat.
“Dilihat
dari catatan ini, mungkin pelakunya adalah istri dari Mr. Jonathan. Dia sudah
berencana untuk membunuh Mr. Jonathan dan kemudian melarikan diri bersama 2
anaknya. Tapi sayangnya, Maria ikut menjadi korban dan mati bersama Mr.
Jonathan.”
“Tapi
sampai saat kejadian, Mrs. Alena dan anak laki-lakinya tidak ada di TKP. Polisi
saat itu juga sudah menyusuri sekitar lokasi kejadian, tapi tidak menemukan
apapun.”
“Maaf
aku terlambat.” Saat rapat berlangsung, tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan Mario
ada dibalik pintu. “Oh Mario. Silahkan bergabung. Kasus ini mulai menemukan
titik terang.” Inspektur mempersilahkan Mario bergabung.
“Bisakah
aku melihat foto keluarga Jonathan.” Pinta ayah.
Seorang
laki-laki memberikan foto keluarga Jonathan pada ayah. Dalam foto itu terdapat
4 orang. Mr. Jonathan, Mrs. Alena, dan dua anak mereka, Mario dan Maria –yang
ikut tewas dalam kecelakaan—. Aku ikut memperhatikan foto itu. Ayah pernah
bilang kalau mungkin anak itu sekarang berumur sekitar 20 tahun. jadi mungkin
sekarang, Mario dalam foto itu sebesar Michelle, atau sebesar Mario yang duduk
di depan inspektur sekarang.
“Oh
iya, Hans. Aku mau kau juga melihat foto-foto TKP 10 tahun lalu. Mungkin ini
bisa membantu.” Inspektur memberikan amplop yang berisi foto 10 tahun silam
pada ayah. Ada foto gudang itu, dan bagaimana keadaan mobil setelah kecelakaan.
Mobil itu terlihat sangat rusak karena terbakar.
“Atau
mungkin Mrs. Alena ikut terbakar dalam kecelakaan itu. Lihatlah! Mobil ini
sangat hancur.” Ujar ayah berkomentar. “Tidak! Bagian kanan dari mobil tidak
terlalu terbakar. Mungkin saat itu Mrs. Alena menyelamatkan diri. Tapi yang tak
kami mengerti, tak ada jejak apapun.”
“Dan
kalaupun Mrs. Alena berhasil menyelamatkan diri, pasti sebagian tubuhnya rusak
karena luka bakar.” Lanjut inspektur. “Jadi bagaimana mungkin Mrs. Alena dan
anaknya bisa selamat dari kecelakaan itu?”
Semua
kembali terfokus pada foto-foto TKP 10 tahun lalu dan yang baru kuambil. Semua
orang disini terlihat sangat serius memikirkan masalah ini. aku mengamati
mereka satu persatu, ayah dan beberapa orang lain memperhatikan setumpukan foto
itu, inspektur melihat data di komputernya dan Mario, pemuda itu terlihat
sedang menuliskan sesuatu di notebook-nya.
Entah
kenapa, aku berpikir bahwa Mario adalah anak dari Mr. Jonathan. Aku melihat ada
kesamaan di wajahnya dengan anak di foto itu. Tapi aku masih belum terlalu
yakin. Aku memperhatikan Mario dan foto anak itu bergantian, ada yang mirip.
Tapi aku tak tahu apa itu. Diam-diam aku memotret Mario dengan kameraku. Aku
berencana mengamatinya lagi nanti. Entah kenapa aku sangat yakin kalau mungkin
Mario ada hubungannya dengan keluarga Jonathan.
Penyelidikan
hari ini masih belum membuahkan hasil yang jelas. Saat pulang, aku mengatakan
kecurigaanku tentang Mario pada ayah. Tapi ayah membantah dan bilang kalau
pemuda itu tak ada hubungan apa-apa dengan keluarga Jonathan. “Ayolah, Alyssa.
Banyak orang yang bernama Mario disini.” Ini membuatku semakin penasaran.
Sampai
di rumah, aku segera mencetak foto Mario dan membandingkannya dengan foto
keluarga Jonathan. Cukup lama aku memperhatikan dua foto itu, sampai akhirnya
aku sadar, bahwa Mario dan anak dalam foto itu memiliki mata yang sama.
Saat
makan malam, ayah memberitahuku kalau aku bisa mulai masuk kuliah lagi besok.
Aku cukup senang mendengar itu, karena Amanda bilang ada ujian mulai minggu
depan. Tapi aku jadi tak tahu bagaimana perkembangan kasus itu.
Pulang kuliah, aku meminta Amanda
untuk ikut denganku. Aku berencana
untuk menyelidiki Mario dan ibunya. Aku sangat yakin kalau Mario adalah anak
dari Mr. Jonathan. Dan mungkin wanita paruh baya yang kutemui saat berkenalan
itu adalah Mrs. Alena.
“Apa
kau yakin, Alyssa?”
“Aku
sangat yakin. Lihatlah, matanya sama. Aku yakin Mario ada hubungannya dengan
keluarga Jonathan.” Aku dan Amanda sudah berada di jalan depan rumah Mario.
Kami hanya memperhatikan dari jauh, aku lihat Mario baru meninggalkan rumahnya,
mungkin dia mau ke kantor ayah.
“Siapa
nama ibu Mario? Apakah Alena juga?” tanya Amanda.
“Waktu
aku dan ibuku ke rumahnya, dia bilang namanya Alice.”
“Berarti
dia bukan istri Mr. Jonathan. Namanya bukan Alena.”
“Amanda,
dia bisa saja bohong soal nama.”
“Tapi
kalau Mario adalah anak dalam foto itu dan ibunya adalah Mrs. Alena, kenapa dia
tidak bilang pada pihak polisi agar kasus ini segera terselesaikan?”
Amanda
ada benarnya. Kenapa selama aku ikut penyelidikan, Mario jarang berkomentar.
Apa dia sengaja menyembunyikannya? “Atau mungkin Mario sengaja
menyembunyikannya karena dia tidak mau ibunya dipenjara, atau Mario kehilangan
ingatannya karena kecelakaan itu.”
“Sebaiknya
kita langsung tanyakan saja pada wanita itu, siapa tahu kita mendapatkan
jawaban.” Amanda sudah berjalan lebih dulu menuju rumah Mario. “Amanda, apa kau
gila?!” Dia tak menghiraukan teriakkanku. Akhirnya aku mengikutinya.
Wanita
itu menyambut kami dengan ramah. “Bukankah kau yang waktu itu datang ke rumahku
dan mengantar kue bersama ibu dan kakakmu?” sapanya padaku. Aku mengangguk,
“dan ini Amanda, temanku.” Beliau tersenyum.
“Em..
sebenarnya ada yang ingin kami tanyakan. Apa Mario itu anakmu?” tanya Amanda.
Hh.. kenapa dia langsung menanyakan itu. Wanita itu terdiam, “Apa Anda
sebenarnya Mrs. Alena? Istri Mr. Jonathan?” lanjut Amanda.
Wanita
itu masih terdiam. Cukup lama, sampai akhirnya dia mulai angkat berbicara.
“Sebenarnya, aku tante Mario. Adik dari ayahnya, Jonathan.” Dia berhenti
sejenak. “Saat kecelakaan, Alena mendatangi rumahku dan mengantar Mario kesini.
Saat itu, keadaan Alena sangat menghawatirkan. Ia juga ikut menderita luka
bakar, tapi dia meminta untuk merahasiakan keadaannya, dan hanya meminta
suamiku yang kebetulan seorang dokter untuk menolongnya, Alena mengalami luka
bakar serius di wajahnya, tapi Alena masih selamat. Setelah itu kami tidak tahu
lagi keberadaannya. Dan kami merawat Mario.”
“Mario
kehilangan ingatannya karena kejadian itu, seperti permintaan Alena, aku
mengenalkan diri sebagai ibunya. Dia juga tidak tahu tentang Alena dan
Jonathan, atau Maria adiknya.”
“Kalau
Anda keluarga Mr. Jonathan, lalu apa Anda juga yang meminta pihak kepolisian
untuk kembali menyelidiki kasus ini?” Lanjutku. Wanita itu menundukkan
kepalanya, lalu mengangguk.
”Sebenarnya
aku curiga kalau Alena yang merencanakan pembunuhan terhadap kakakku, Jonathan.
Tapi aku tidak punya bukti apa-apa. Mario benar-benar kehilangan seluruh
ingatannya karena kecelakaan itu. Jadi aku meminta polisi kembali
menyelidikinya. Selama 10 tahun ini aku yang mengurus dan membersihkan rumah
yang kau tempati sekarang. Dengan harapan aku bisa mendapatkan bukti disana.
Tapi usahaku sia-sia.”
“Sampai
akhirnya aku mendapat kecelakaan setahun yang lalu saat kembali dari rumah itu.
Mobilku ditabrak dan pelakunya melarikan diri. Aku tak tahu siapa itu.” Jelas
Mrs. Alice. Kami terus bercerita, bahkan aku tak sadar kalau hari sudah mulai
larut. Akhirnya aku dan Amanda pamit pulang.
Aku
akan membicarakan ini pada ayah, dan seperti yang dikatakan Mrs. Alice tadi,
dia akan memberitahukan hal ini pada pihak kepolisian, dan tentu saja Mario
akan tahu.
Selesai ujian. Aku kembali bergabung dengan penyidikan ayah. Dan sore
ini aku sudah berada di rumah Mrs. Alice bersama yang lain.
”Alyssa
sudah memberitahukannya padaku. Tapi kami juga perlu penjelasan langsung dari
Anda, Mrs. Alice.” Ayahku memulai pembicaraan. Saat itu, tiba-tiba pintu terbuka dan Mario berada dibaliknya.
“Mario,
aku mau mengatakan sesuatu. Ini berkaitan dengan penyidikan, dan juga
denganmu.” Kata Mrs. Alice. Mario bergabung bersama kami. “Sebenarnya, kau
bukan anak kandungku Mario.” Mario masih diam walau sedikit terlihat terkejut.
“Jonathan
adalah adikku, dan kau adalah anaknya. Saat kecelakaan terjadi, ibumu, Alena
datang kesini bersamamu. Saat itu dia menderita luka bakar serius, tapi dia
menolak dibawa ke rumah sakit. Suamiku bekerja sebagai dokter saat itu. Akhirnya
suamiku berusaha menolongnya mesti dengan peralatan yang ada. Kemudian dia
pergi setelah menitipkanmu padaku. Sampai sekarang aku tak tahu keberadaannya.”
Ujar Mrs. Alice.
Kami
terus berbincang. Mrs. Alice menceritakan semua pada pihak kepolisian dengan
harapan mereka bisa menemukan jawaban untuk kasus ini. Mario juga terlihat
lebih serius saat ini. hingga kami tak sadar bahwa jam dinding di rumah Mrs.
Alice menunjukkan pukul 12.00 p.m., kemudian kami pamit pulang.
”Ini
semakin rumit saja,” kata ayahku saat di mobil. Dari suaranya terdengar kalau
ayah sangat lelah. “Aku pikir ini semakin mendekati titik terang, apa ayah
tidak terlintas kalau Mrs. Alena –lah yang merencanakan ini semua?” sahutku.
“Ayah
juga berpikir begitu. Tapi kami semua tidak tahu dimana keberadaan Mrs. Alena.
Itu membuat polisi tidak bisa membuat keputusan begitu saja. Itu yang membuat
keadaan menjadi semakin pelik. Kita harus segera mengetahui keberadaan Mrs.
Alena. Apa dia baik-baik saja, atau malah dia sudah meninggal.”
Sinar
lampu mobil menyilaukan mata kami. Semakin dekat, hinga akhirnya aku sadar
kalau mobil di depan sengaja menabrak mobil ayah. Aku sempat melihat siapa yang
ada di dalam mobil itu sekilas. Hingga akhirnya aku tak tahu lagi apa yang
terjadi.
1 bulan menjalani perawatan itensif di rumah sakit, akhirnya aku
sudah bisa pulang hari ini. Sayangnya, keadaan ayah belum membaik. Beliau masih
harus di rawat, kakinya patah dan pendengaran ayah sedikit terganggu karena kecelakaan
itu.
Aku
ditemani Michelle pulang hari ini, ibuku masih di rumah sakit menjaga ayah. Michelle
mengantarku sampai ke kamar, dan duduk di sebelahku. “Apa yang terjadi
sebenarnya, Alyssa?” tanyanya pelan.
“Hhhh..”
aku mendesah, “Aku tak terlalu ingat, tapi malam itu mobil yang ayah kendarai
ditabrak dari arah lain.” Jelasku.
“Tapi
setelah kejadian, polisi langsung ke TKP dan hanya menemukan kau dan ayah.
Tidak ada kendaraan lain lagi.”
“Benarkah?
Tapi aku sempat melihat siapa yang ada di dalam mobil. Seseorang, berambut
panjang, dan wajahnya.. terdapat sedikit luka bakar. Iya aku sempat lihat dia,
seorang wanita dengan luka bakar di wajah.”
Michelle
diam. “Apa kau memikirkan apa yang kupikirkan Alyssa? Mungkinkah itu Mrs.
Alena?”
Deg!
Sepertinya
Michelle menyadari perubahan ekspresiku saat dia menyebut nama Alena. “Oh
sebaiknya kau istirahat. Jangan terlalu memikirkan apa yang ku katakan tadi,
keadaanmu harus pulih benar. Mungkin pihak kepolisian akan menanyaimu tentang
ini dan memintamu kembali bergabung dengan penyelidikan saat kau sudah sembuh.”
katanya lalu pergi meninggalkan kamarku.
Michelle
benar. Kasus ini bahkan semakin sulit saja. Tentu pihak kepolisian akan
menanyaiku cepat atau lambat, dan dalam waktu dekat ini mereka tak bisa
melibatkan ayah dengan keadaan ayah yang seperti itu. Aku semakin curiga kalau
Mrs. Alena terlibat.
Seminggu kemudian, aku sudah bisa kembali beraktivitas. Dan seperti yang Michelle
bilang minggu lalu, inspektur dan orang-orang dari kepolisian datang ke rumah.
“Bagaimana keadaanmu Alyssa?” sapanya.
“Sudah
baik. Mungkin aku akan segera kembali bergabung dengan penyelidikan.”
“Pertama,
aku ingin menanyakan kejadian malam itu.”
“Waktu
itu, kami sedang membahas apa yang di bahas di rumah Mrs. Alice. Dan tiba-tiba
ada mobil dari depan yang menabrak. Aku tak ingat mobil apa itu, dan aku juga
tak lihat nomor polisinya. Tapi aku melihat sekilas siapa yang ada di dalam
mobil. Sepertinya seorang wanita, dan aku melihat dia.. seperti luka bakar di
wajahnya.” Jelasku. “Mungkin itu Mrs. Alena. Tapi aku masih tidak bisa
memastikan.”
“Lalu
apa yang terjadi dengan mobil yang menabrakmu? Kami hanya menemukan mobil
ayahmu setelah kejadian.”
“Aku
tak tahu. Setelah mobil itu menabrak kami, aku mungkin pingsan dan tak tahu
lagi apa yang terjadi.” Salah seorang dari kepolisian tampak mencatat sesuatu.
“Aku penasaran dimana sebenarnya Mrs. Alena sekarang..” ucap Mario tiba-tiba.
Kami
terus membahas masalah ini meski tanpa ayah, dan hanya ada beberapa orang dari
penyelidikan. Handphoneku berdering, nomor tak dikenal. “Aku keluar sebentar.
Telponku berbunyi.” Aku beranjak dan keluar.
“Hallo?”
Tak
ada jawaban. Tapi tiba-tiba seseorang membekap mulutku dari belakang. Aku
memberontak. Mungkin suaraku terdengar sampai kedalam. Inspektur dan yang
lainnya keluar.
“Alyssa
apa kau baik-baik saja?” mereka tampak terkejut saat melihat aku disekap.
“Jangan mendekat, atau aku akan menembak gadis ini.”
“Tunggu.
Siapa kau? Kenapa kau tiba-tiba menyerang gadis itu? Ada apa denganmu?” Tanya
Inspektur. “Apa kau Alena?”
“IYA!
Aku Alena. Aku yang membunuh Jonathan! Dan kalau kalian macam-macam aku akan
membunuh gadis ini.” ancamnya. Dia menyeretku pergi. Saat pelarian Mrs. Alena,
tiba-tiba saja wanita itu terjatuh. Seseorang menembak kakinya.
“Mario,
apa yang kau lakukan?!”
Kami
langsung membawa Mrs. Alena ke rumah sakit agar ia mendapat penanganan segera.
Aku tak menyangka Mario akan melakukan itu. Menembak ibunya sendiri?! Hhh..
kami duduk di depan ruang UGD, dokter sedang mencoba mengeluarkan peluru dari
kaki Mrs. Alena.
“Mmm..
Mario, kenapa kau melakukan itu? Kenapa kau menembak Mrs. Alena, bukankah kau
sudah tahu bahwa dia adalah ibumu?” tanyaku akhirnya.
“Aku
tahu dia ibuku, tapi aku tidak mungkin membiarkannya membawamu begitu saja.”
jawabnya tenang. “Lagi pula, mungkin itu satu-satunya cara agar kita bisa
menyelesaikan kasus ini.” Mario menjawab dengan sangat dingin. Entah kenapa
pemuda itu selalu begitu saat berbicara denganku.
Hampir
tengah malam, operasi Mrs. Alena sudah selesai dan beliau dipindahkan ke ruang
perawatan. Kami masih menunggunya sadar. “Mario, apa kau baik-baik saja?”
akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya. Sejak tadi aku perhatikan dia
sedikit tegang.
“Entahlah..”
Akhirnya
Mrs. Alena terbangun. Dia sedikit terkejut saat melihat kami. Inspektur
menyuruh agar Mario yang bicara pada Mrs. Alena, mungkin itu akan membantu.
“Aku
minta maaf karena telah menembak kakimu, aku terpaksa melakukan itu.”
Mrs.
Alena masih diam.
“Aku..
aku ingin bertanya sesuatu. Kenapa kau membunuh Mr. Jonathan? Kenapa kau
merencanakan pembunuhan itu? Dan kenapa akhirnya kau menitipkanku pada ibu, maksudku Mrs. Alice?” cercanya.
“Apa
kau.. kau.. apa kau Mario? Anakku?”
Mrs.
Alena menjelaskan semuanya. Kecelakaan yang akhirnya memberikan bekas luka di
wajahnya. Kecelakaan yang menewaskan anaknya, Maria. Kecelakaan yang memaksanya
meninggalkan Mario. Juga alasan kenapa dia merencakan pembunuhkan terhadap
suaminya sendiri. Mrs. Alena juga menjelaskan dia yang menabrak mobil Mrs.
Alice tahun lalu, dia juga yang menabrak mobil ayahku.
Mrs.
Alena meminta maaf pada semuanya, dan dia juga akan menyerahkan diri pada
polisi dan mengakui semuanya.
1 bulan kemudian, ayahku sudah sembuh
total. Beliau sangat senang
saat mendengar akhirnya kami bisa menemukan Mrs. Alena dan kasus ini
terselesaikan. Sekarang aku bisa kuliah seperti biasanya, dan melanjutkan hobi
fotografiku bersama Michelle.
Ayah
juga sudah kembali bekerja di kepolisian, dan ada kasus baru yang sedang ia
tangani. Aku tak tahu dan tak ingin tahu kasus apa itu. Sekarang aku hanya Alyssa, seorang mahasiswa biasa. Aku banyak
mendapat hal baru dari kejadian kemarin, tapi kurasa cukup dan aku tak ingin
lagi berurusan dengan hal-hal yang mungkin akan membahayakan nyawaku sendiri.
“Hai,
Alyssa.. lihat ini. ayahku baru memberikan kamera baru. Kurasa mulai sekarang
aku akan ikut hunting denganmu.” Natasha mendatangiku dengan membwa
kamera barunya. Kami pergi ke danau yang pernah kudatangi bersama Michelle.
Hhh.. suara shutter foto. Aku sangat menikmati ini.
Posting Komentar