Di era sekarang ini, Internet tidak bisa dipisahkan dari kegiatan kita sehari-hari. Kehadiran internet membuat berbagai pekerjaan kita menjadi lebih mudah. Internet menyediakan akses informasi dan sebagai sarana pertukaran pesan yang mudah dan efektif. Mulai dari berbelanja, memesan hotel, membeli tiket pesawat hingga belajar dapat di akses dari rumah dengan hanya bermodal internet. Tidak hanya orang dewasa yang menggunakannya, bahkan saat ini anak-anakpun seolah tak bisa dipisahkan dari teknologi baru bernama internet ini.
Anak-anak yang menggunakan internet banyak menggunakan teknologi ini untuk bermain game, mencari informasi dan juga untuk belajar. Penggunaan internet oleh anak-anak banyak merubah apa yang anak-anak terdahulu lakukan dalam menghabiskan waktu luangnya dan dalam interaksinya dengan teman sebaya. Misalnya jika dulu anak-anak menghabiskan waktu luangnya untuk bermain di luar rumah, bermain permainan tradisional atau sebagainya maka sekarang sejak kehadiran new media berupa internet dan gadget ini, kebiasaan-kebiasaan tersebut mulai menghilang. Anak-anak saat ini lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bermain game di komputer di rumahnya daripada menghabiskan waktu di luar rumah bersama teman-teman sebaya.
Hadirnya internet dalam kehidupan anak-anak dapat memberikan dampak baik maupun buruk. Hal ini telah dikaji oleh para ahli sejak kemunculan internet itu sendiri. Anak-anak yang menggunakan internet hanya untuk hiburan seperti bermain game akan membuat anak tersebut menjadi 'addict' terhadap game dan internet. Hal ini tentu saja tidak baik untuk anak tersebut. Penggunaan internet oleh anak-anak harus dibawah pengawasan orang tua, karena pada dasarnya anak-anak belum paham mengenai apa yang baik dan yang buruk. Anak-anak sangat mudah terpengaruh oleh apa yang mereka lihat. Misalnya ketika anak-anak melihat adegan kekerasan dalam game, terdapat kemungkinan anak-anak akan menirukan apa yang mereka lihat tersebut. Hal ini tentu tidak baik karena anak-anak bisa saja mempraktikan apa yang mereka lihat kepada teman sebayanya. Seperti pernah terjadi kasus di Indonesia, dimana seorang anak menirukan adegan kekerasan (berkelahi) yang dia lihat dari game yang ia praktikan kepada teman sebayanya.
Terlalu lama berada di depan komputer juga tidak baik untuk perkembangan otak dan tubuh anak. Anak-anak yang lebih sering terpapar sinar komputer dikatakan lebih memiliki potensi lebih tinggi untuk terkena gangguan mata atau karena posisi duduk di depan komputer yang lama membuat mereka mengalami gangguan tulang. Terlalu lama duduk di depan komputer, membuat anak-anak menjadi generasi yang malas yang enggan berkegiatan yang lebih mengolah fisik mereka.
Kecanduan terhadap game dan komputer juga bisa membuat anak-anak menjadi 'antisosial', mereka merasa lebih senang berada di depan komputer daripada bermain di lapangan atau taman. Bahkan lebih buruknya mereka menghindari bahkan tidak mau melakukan interaksi secara langsung.
Namun, internet dapat memberikan dampak baik untuk anak-anak ketika penggunaannya tepat. Internet memberikan akses yang sangat mudah terhadap informasi dan edukasi. Seperti yang dikatakan Seymor Papert (1993), bahwa computer membawa bentuk baru dalam pembelajaran, yang melewati keterbatasan dari metode linear yang dulu seperti print dan televisi. Anak-anak terlihat menjadi lebih responsif pada pendekatan baru ini. Komputer menunjukkan kreativitas dan hasrat untuk berlajar mereka, yang dulu dihalangi dan dibatasi oleh metode yang jadul/lama. Ahli lain berpendapat bahwa computer memberi wewenang pada anak-anak untuk berkomunikasi dengan yang lain, untuk mengekspresikan diri mereka dan berpartisipasi pada kehidupan sosial yang sebelumnya tidak mungkin. Don Tapscoyt (1997) juga berpendapat bahwa internet menciptakan generasi elektronik yang lebih demokratis, lebih imajinatif, lebih memiliki tanggung jawab sosial dan lebih tau daripada generasi yang dulu. Komputer dan internet direpresentasikan sebagai jendela untuk dunia yang baru, cara untuk mengembangkan intuisi anak-anak tentang rasa ingin tau dan rasa haus akan pengetahuan (Nixon, 1998).
Karena internet memberikan dampak yang cukup serius terhadap perkembangan anak-anak, maka peran oramg tua menjadi salah satu faktor penentu yang sangat penting dalam penggunaan internet pada anak-anak. Orang tua harus mengawasi anak-anaknya ketika sedang bermain di internet. Orang tua juga harus mengarahkan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh diakses di internet. Jika anak-anak dan orang tua sama-sama tahu menggunakan internet dengan baik, bukan tidak mungkin itu akan memberikan dampak positif kepada keduanya. Misalnya orang tua dapat mengajarkan kepada anaknya untuk membuat berbagai kerajianan tangan dengan melihat turorial atau caranya di internet.
Contohnya di YouTube atau Instagram banyak akun-akun yang berupa tutorial membuat sesuatu dari barang bekas atau barang-barang yang ada di rumah yang dapat mengasah kreatifitas anak-anak. Hal ini tentu dapat meningkatkan kemampuan anak-anak dan mungkin dapat mengajarkan anak-anak bahwa 'sampah' juga bisa digunakan kembali dengan kita mengolahnya menjadi benda lain. Misalnya membuat tempat pensil dari botol bekas, membuat gantungan kunci dari kain perca, membuat hiasan dinding dari kertas karton, membuat pigura foto dari stik es krim dan sebagainya.
Misalnya akun @diy.id di instagram, yang kontennya barang-barang handmade, dan terdapat pula cara bagaimana membuatnya. Akun ini juga menerima masukan atau feeds dari orang lain yang ingin berbagi tutorial sehingga terdapat berbagai macam cara membuat kerajianan yang dapat dipelajari.
Kesimpulannya, kemudahan akaes terhadap internet harus kita sikapi dengan bijak terutama pada penggunaan oleh anak-anak. Orang tua tidak boleh 'lepas tangan' ketika anak-anak sedang bermain internet, tetapi orang tua harus mendampingi dan memberitahu tentang hal-hal yang boleh diakses di internet agar anak-anak dan orang tua dapat memperoleh manfaat dari adanya teknologi internet. Bukan justru menjadi korban dari teknologi tersebut.
Lievrouw, Leah A. & Sonia Livingstone. 2006. Handbook of New Media: Social Shaping and Social Consquences of ITCs, Sage Publication Ltd. London. Chapter 3: "Children and New Media"
Posting Komentar